Dalam dunia pengembangan software modern, memahami teori saja tidak lagi cukup—Anda juga perlu melihat bagaimana penerapannya di dunia nyata.
Untuk memastikan metode SDLC yang dipilih benar-benar sesuai, Anda juga perlu memahami bagaimana penerapannya secara nyata.
Dalam contoh ini, Anda akan mendapatkan gambaran konkrit tentang cara kerja sebuah metode pada kondisi proyek yang berbeda.
Sebelum menuju beberapa contoh SDLC tersebut, mari pahami mengapa Anda perlu memahaminya sebelum menerapkannya.
Mengapa Anda Perlu Memahami Contoh SDLC Secara Nyata?
Dengan memahami SDLC secara praktis, Anda bisa memahami dampaknya secara nyata di lapangan.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa contoh SDLC sangat penting untuk dipelajari:
- Memilih Metode yang Paling Sesuai dengan Proyek: Dengan melihat contoh SDLC nyata, tim dapat memahami metode mana yang paling cocok tanpa harus trial and error berlebihan.
- Menunjukkan Penerapan SDLC Terhadap Efisiensi Biaya dan Waktu Pengembangan: Contoh nyata menunjukkan bagaimana metode tertentu mampu mempercepat rilis tanpa mengorbankan keamanan atau menjadi pelajaran penting agar Anda tidak mengulang kesalahan serupa.
- Berperan Besar dalam Mitigasi Risiko Kegagalan Sistem: Melalui contoh SDLC, Anda bisa melihat bagaimana risiko teknis dan operasional dimitigasi sejak awal.
Baca juga: Pengertian dan 7 Tahapan SDLC dalam Cyber Security
Beberapa Contoh SDLC untuk Berbagai Kebutuhan
Setiap metode SDLC memiliki konteks penggunaan yang berbeda. Tidak ada satu metode yang paling benar untuk semua proyek.
Berikut beberapa contoh SDLC yang umum diterapkan sesuai kebutuhan proyek dalam praktik DevSecOps:
1. Contoh Penerapan Metode Waterfall pada Sistem Perbankan

Umumnya, sistem perbankan memilih kebutuhan yang stabil dan jarang berubah. Hal ini terjadi karena mereka memiliki regulasi yang ketat. Perbankan juga memprioritaskan dokumentasi yang lengkap untuk keperluan audit dan compliance.
Maka dari itu, mereka cocok menggunakan metode waterfall karena setiap tahapan SDLC dijalankan secara berurutan dan terdokumentasi rapi.
Selain memudahkan evaluasi keamanan, mereka juga dapat meminimalisir risiko perubahan kebutuhan sejak awal.
2. Contoh Penerapan Agile SDLC dalam Pengembangan Aplikasi Mobile Startup

Aplikasi startup biasanya berkembang cepat karena mengikuti perubahan kebutuhan penggunanya.
Maka dari itu, mereka lebih cocok menggunakan metode Agile karena pengembangan produknya dilakukan secara bertahap. Setiap tahapan ini menyediakan kebebasan untuk mengevaluasi fitur dan keamanannya.
Dengan metode ini, mereka bisa mengakomodasikan feedback pengguna secepat mungkin untuk menyesuaikan fiturnya. Hasilnya, aplikasi mereka cepat dipublikasikan, lebih adaptif, dan minim resiko keamanan.
3. Contoh Penerapan Metode Spiral untuk Proyek Pemerintah Skala Besar

Contoh SDLC selanjutnya adalah penerapan metode spiral. Biasanya, mereka harus membuat sistem kompleks yang mengandung banyak risiko dan melibatkan banyak stakeholder.
Maka dari itu, mereka sebaiknya menggunakan metode spiral untuk menerapkan setiap siklus SDLC yang disertai analisis risiko.
Dengan ini, para developer bisa melakukan evaluasi berkala sebelum melangkah ke tahap pengembangan berikutnya. Keamanan pun juga menjadi bagian dari pengambilan keputusan di setiap iterasi.
Baca juga: 6 Metode SDLC Terpopuler yang Dapat Digunakan DevSecOps
4. Contoh Penerapan Model Prototype pada Pengembangan Aplikasi Layanan Publik

Pada aplikasi layanan publik, kebutuhan pengguna sering belum terdefinisi dengan jelas di awal.
Untuk itu, sebaiknya developer membuat prototype sistem dulu agar pengguna bisa mencoba dan memberikan feedback terhadap sistem. Dari sini, developer bisa langsung menggunakan masukan mereka untuk perbaikan desain dan fitur.
Hasilnya, sistem lebih sesuai kebutuhan dan minim revisi besar di akhir. Dengan pendekatan ini, mereka juga dapat meminimalisir risiko miskomunikasi antara tim dengan user nyata di lapangan.
5. Contoh Penerapan V-Model pada Sistem Kesehatan Digital

Biasanya, sistem kesehatan digital menuntut keandalan yang sangat tinggi karena bug kecil dapat memengaruhi keselamatan pengguna.
Maka dari itu, developer dari rumah sakit seharusnya menggunakan model ini untuk melakukan proses testing keamanan–berupa validasi dan verifikasi–di setiap tahapan.
Hasilnya, mereka bisa membuat sistem berkualitas yang juga terjamin sejak awal.
6. Contoh Penerapan Metode Fountain pada Pengembangan Sistem Berorientasi Objek

Contoh SDLC terakhir adalah penerapan metode fountain pada pengembangan sistem berbasis Oop (Object-oriented).
Sistem ini biasanya harus bersifat fleksibel sehingga tahapan desain dan implementasinya sering tumpang tindih.
Maka dari itu, mereka sebaiknya menggunakan metode fountain untuk menerapkan fase desain, coding, dan testing secara paralel.
Dengan metode ini, para developer bisa melakukan perubahan dalam setiap proses sehingga menjadi alternatif yang lebih fleksibel daripada pendekatan waterfall.
Tabel Perbandingan Contoh Penerapan SDLC
Supaya lebih mudah dibandingkan, berikut kami sajikan beberapa contoh SDLC, proyek, hingga alasan utama mengapa mereka cocok.
| Metode SDLC | Contoh Proyek | Alasan Utama Digunakan |
| Waterfall | Sistem Perbankan | Stabil, terdokumentasi, mudah diaudit |
| Agile | Aplikasi Mobile Startup | Fleksibel, cepat, iteratif |
| Spiral | Proyek Pemerintah | Fokus manajemen risiko |
| Prototype | Layanan Publik | Validasi kebutuhan pengguna |
| V-Model | Sistem Kesehatan Digital | Testing ketat & terstruktur |
| Big Bang | Proyek Eksperimen | Cepat & eksploratif |
| Fountain | Sistem OOP Kompleks | Fleksibel & paralel |
Pilihlah SDLC yang Tepat dengan Kebutuhan DevSecOps!
Dari berbagai contoh SDLC di atas, dapat Anda simpulkan bahwa keberhasilan DevSecOps sangat bergantung pada kecocokan metode dengan karakter proyek.
Tidak ada metode yang paling sempurna, adanya hanya metode yang paling relevan untuk setiap penggunanya. Dengan memahami penerapan nyata SDLC, Anda dapat membangun sistem yang lebih aman, efisien, dan minim resiko sejak awal.
Jika Anda ingin mempelajari secure SDLC lebih lanjut, Anda perlu pendekatan dari Green Team. Oleh karena itu, mari daftarkan diri dalam kursus Green Team Fundamental dari Cyber Studio!
Di sini, Anda akan mempelajari beberapa hal menarik, seperti prinsip secure coding, defensive coding, serta DevSecOps fundamental.
Jangan tunggu sampai ada serangan terjadi. Mari siapkan diri Anda menjadi developer yang lebih peduli keamanan sistem!