Pengertian dan 7 Tahapan SDLC dalam Cyber Security

Selain fungsional, seorang developer juga dituntut untuk membuat aplikasi yang aman dari risiko serangan siber.

Meskipun tampak stabil dari luar, aplikasi ini bisa saja memuat celah yang bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk serangan.

Maka dari itu, sebagai developer, Anda juga perlu menerapkan tahapan SDLC dalam keamanan siber. Dengan pendekatan ini, keamanan sistem sudah diterapkan secara konsisten sejak awal pengembangan.

Mari kita pahami lebih dalam pengertian SDLC, alasan pentingnya dalam cyber security, tahapan, hingga tools yang mendukung penerapannya.

Apa Itu SDLC (Software Development Life Cycle)?

Apa Itu SDLC (Software Development Life Cycle)?

Secure Software Development Lifecycle atau SDLC adalah proses pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan sistem secara sistematis.

Dalam konteks cyber security, SDLC berkembang menjadi Secure SDLC, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan keamanan di setiap fase pengembangan.

Tujuan pendekatan ini adalah memastikan software berjalan optimal dan tahan terhadap ancaman siber.

Mengapa SDLC Penting dalam Cyber Security?

Dengan SDLC, Anda dapat menurunkan risiko ancaman siber pada sistem sehingga aman digunakan dalam jangka panjang.

  • Mengurangi Risiko Kerentanan Sejak Dini: Dengan SLDC, Anda dapat mengidentifikasi dan mencegah risiko keamanan sejak tahap perencanaan awal.
  • Mencegah Biaya Tinggi di Tahap Akhir: Penerapan SDLC membantu Anda menghemat waktu dan anggaran dengan mencegah masalah sejak awal.
  • Memenuhi Standar Keamanan Global: Dalam SDLC, Anda akan menggunakan beberapa standar seperti OWASP, NIST, dan ISO 27001 sehingga aplikasi Anda lebih siap menghadapi audit.
  • Mendukung Kebutuhan Compliance Perusahaan: Berkat proses development dengan keamanan, Anda dapat memastikan sistem sesuai dengan kebijakan internal maupun eksternal.

Tahapan SDLC dalam Cyber Security

Untuk membangun sistem yang aman dan berkelanjutan, Anda perlu memahami tahapan SDLC secara menyeluruh.

Dalam SDLC, ada tujuh tahapan yang perlu Anda terapkan, yaitu planning, coding, testing, releasing, deploying, operating, dan monitoring.

1. Planning (Perencanaan)

Planning (Perencanaan)

Tahap ini merupakan penentuan tujuan bisnis, ruang lingkup proyek, dan kebutuhan sistem. Di sini, Anda juga harus mengidentifikasi risiko keamanan agar dapat dimitigasi secara strategis.

Libatkan tim security engineer dan developer agar Anda dapat menyelaraskan kebutuhan bisnis, keamanan, dan implementasi teknis.

2. Coding (Pengembangan)

Tahap ini merupakan penulisan kode oleh developer yang sesuai dengan prinsip secure coding

Mereka juga perlu lebih berhati-hati terhadap kerentanan seperti SQL injection, XSS, dan CSRF. Gunakanlah tools seperti SonarQube dan Snyk untuk mendeteksi celah keamanan lebih awal.

3. Testing (Pengujian)

Testing (Pengujian)

Tahap testing memastikan aplikasi berjalan fungsional tanpa mengorbankan keamanan. Di tahap ini, Anda harus melakukan penetration testing, vulnerability scanning, dan code review

Dengan pengujian menyeluruh, dipastikan sistem Anda sudah siap masuk ke tahap pengembangan berikutnya.

4. Releasing (Perilisan)

Pada tahap ini, aplikasi dipersiapkan untuk rilis ke lingkungan produksi. Maka dari itu, Anda harus memverifikasi konfigurasi dan kontrol keamanan serta menyusun daftar risiko dan dokumentasi keamanan.

5. Deploying (Deployment)

Deploying (Deployment)

Tahap SDLC selanjutnya adalah deployment, yaitu proses penempatan aplikasi ke lingkungan produksi.

Anda bisa menerapkan keamanannya dengan mengkonfigurasi firewall, manajemen akses, dan variabel lingkungan. Terapkan juga CI/CD pipeline yang aman untuk mengurangi kesalahan manusia.

6. Operating (Operasional)

Setelah aplikasi go-live, tujukan fokus Anda kepada keamanan operasionalnya. Untuk itu, lakukanlah kontrol akses, audit log, dan backup dengan rutin untuk menjaga stabilitas dan keamanan sistem.

7. Monitoring (Pemantauan)

Monitoring (Pemantauan)

Terakhir adalah monitoring. Di sini, Anda diharuskan untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan secara real-time

Gunakanlah tools SIEM untuk memantau log dan serangan yang terjadi. Dengan pemantauan aktif, Anda dapat merespons insiden sebelum dampaknya semakin parah.

Tools yang Digunakan dalam Secure SDLC

Agar praktik Secure SDLC berjalan optimal, Anda perlu memanfaatkan tools yang tepat. Berikut adalah beberapa tools yang membantu otomatisasi, deteksi, dan respons keamanan.

1. Code Analysis Tools

Tools seperti Snyk dan SonarQube digunakan untuk menganalisis kualitas dan keamanan kode. Mereka membantu mendeteksi celah untuk menekan risiko serangan sebelum masuk tahap produksi.

2. Security Testing Tools

Ada juga burp Suite dan OWASP ZAP untuk menguji keamanan aplikasi secara aktif. Dengan tools ini, ANda bisa menemukan kerentanan yang tidak terlihat dari analisis kode saja.

3. CI/CD Security Tools

Tools CI/CD seperti GitLab CI Security dan GitHub Advanced Security membantu mengintegrasikan keamanan ke pipeline CI/CD. Otomatisasi ini memastikan setiap perubahan kode tetap memenuhi standar keamanan setempat.

4. Monitoring and Incident Response Tools

Terakhir adalah tools monitoring keamanan seperti Splunk, Wazuh, dan Datadog Security yang dapat membantu memantau sistem secara real-time. Tools ini membantu mendeteksi dan merespons insiden dengan cepat.

Saatnya Menerapkan SDLC yang Aman Sejak Awal!

Itulah tahapan SDLC lengkap yang perlu Anda perhatikan saat bekerja sebagai seorang tim cyber security. Dengan tahapan ini, Anda dapat membangun aplikasi yang fungsional, aman, dan berkelanjutan.

Jika Anda ingin mempelajari secure SDLC lebih lanjut, Anda perlu pendekatan dari Green Team. Oleh karena itu, mari daftarkan diri dalam kursus Green Team Fundamental dari Cyber Studio!

Di sini, Anda akan mempelajari beberapa hal menarik, seperti prinsip secure coding, defensive coding, serta DevSecOps fundamental.

Jangan tunggu sampai ada serangan terjadi. Mari siapkan diri Anda menjadi developer yang lebih peduli keamanan sistem!

Scroll to Top