Dalam beberapa tahun ini, ada beberapa kasus kebocoran data pribadi di Indonesia yang menunjukkan bahwa sistem digital kita masih rentan.
Kebocoran data ini juga menyebabkan dampak yang serius, seperti pencurian identitas, penipuan finansial, hingga menurunkan kepercayaan publik terhadap layanan digital.
Oleh karena itu, mari kita pelajari bersama setiap kasus tersebut hingga penanganannya untuk belajar melindungi diri dan bisnis dari ancaman serupa.
Penyebab Umum Kebocoran Data di Indonesia
Umumnya, kasus kebocoran data ini terjadi karena beberapa faktor, mulai dari minimnya kesadaran keamanan hingga kurangnya audit dan monitoring real-time.
- Minimnya Kesadaran Keamanan di Kalangan Perusahaan Kecil-Menengah: Beberapa UMKM dan perusahaan menengah belum menerapkan standar keamanan dasar sehingga menimbulkan celah dapat dimanfaatkan.
- Sistem Keamanan IT yang Lemah: Penggunaan software usang dan kurangnya enkripsi membuat data kita lebih mudah dicuri atau dimanipulasi.
- Human Error: Karyawan lebih rawan menjadi korban phishing, melakukan kesalahan konfigurasi, atau lalai dalam menjaga kredensial.
- Belum Adanya Regulasi Komprehensif yang Diterapkan: Sebelum pemberlakuan UU PDP, banyak perusahaan yang tidak diwajibkan untuk melindungi atau mengelola data pribadi.
- Kurang Pengawasan Audit dan Monitoring Real-time: Serangan sering terlambat terdeteksi karena tidak adanya pemantauan keamanan secara berkelanjutan.
Baca juga: 5 Jenis Tools Monitoring Ancaman Keamanan dan Contohnya
Beberapa Contoh Kasus Kebocoran Data Pribadi di Indonesia
Setiap kasus kebocoran data pribadi ini menjadi peringatan bahwa kita perlu melindungi sistem digital kita secara lebih serius.
1. Kebocoran Data Pusat Data Nasional (Juni 2024)

Sumber: DTrust
Di tanggal 20 Juni 2024 lalu, Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) di Surabaya menghadapi serangan ransomware yang dilakukan oleh kelompok “Brain Cipher“.
Serangan ini berhasil menyebabkan gangguan pada 210 instansi pemerintah, termasuk layanan bandara dan sistem informasi nasional.
Mereka mengunci data krusial yang menyebabkan downtime massal layanan publik, seperti melumpuhkan akses data pemerintahan dan potensi eksploitasi informasi sensitif nasional.
Pemerintah menolak untuk membayar tebusan yang diminta sebesar US$8 juta (Rp131 miliar). Sebagai solusinya, BSSN menerapkan patch darurat dan mengisolasi jaringan supaya sistem bisa pulih dalam waktu 72 jam.
2. Kebocoran Data Paspor 35 Juta WNI (Juli 2023)

Sumber: Inilah.com
Pada tanggal 5 Juli 2023, dilaporkan bahwa sebanyak 35 juta data paspor WNI beredar di dark web, mulai dari nama, nomor paspor, hingga tanggal lahir mereka. Serangan ini menyebabkan risiko pemalsuan identitas dan penipuan imigrasi.
Sebagai solusinya, Kominfo melakukan penelusuran lanjutan dan meminta agar penyedia platform digital dan pengelola data semakin meningkatkan keamanan datanya serta memastikan keamanan sistem elektronik yang dioperasikan.
3. Kebocoran Data Jaques Antonius Latuhihin (Maret 2024)
Pada bulan Maret 2024, terjadi kebocoran data seorang Mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Yogyakarta bernama Jaques Antonius Latuhihin.
Ia mengaku mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal yang membahas soal permohonan informasi terkait Bandwidth internet yang ia ajukan sebelumnya.
Diduga, kasus ini terjadi akibat oknum beberapa pemkab Sleman karena ia mengajukan permohonan informasi No Reg 0110 di tanggal 28 Februari 2024 lalu.
Jaques membawa permasalahan ini ke sidang Komisi Informasi Daerah (KID) DIY karena permohonannya mengakibatkan sengketa informasi.
4. Kebocoran Data BPJS Kesehatan (Mei 2021)

Sumber: CNBC Indonesia
Serangan ini menyebabkan sebanyak 279 juta data peserta BPJS bocor, mulai dari nama, NIK, alamat, nomor telepon, hingga riwayat kesehatan.
Data-data ini dijual di dark web untuk kebutuhan pinjol ilegal. Ini menyebabkan pencurian identitas medis, pemalsuan klaim miliaran, hingga stigma negatif kepada penyedia layanan kesehatan publik.
Sebagai solusinya, Kominfo beserta Polri melakukan investigasi lanjutan terhadap BPJS Kesehatan. Mereka juga memblokir akses tautan pengunduhan data untuk mencegah penyebaran lebih luas.
5. Kebocoran Data IndiHome (2022)

Sumber: Gamebrott.com
Kasus kebocoran data pribadi di Indonesia yang terakhir adalah kasus Indihome. Di bulan Agustus 2022 silam, terdapat dugaan kebocoran 26 juta data pelanggan Indihome yang diretas oleh hacker bernama Bjorka.
Ia diduga menjual data-data di forum online yang berisi browsing history dan data pribadi pelanggan. Meskipun begitu, pihak Telkom membantah karena sistem mereka tidak menyimpan data pribadi dan riwayat penjelajahan secara berdampingan.
Cara Mencegah Kebocoran Data dengan Efektif
Bagaimana cara mencegah kebocoran data di atas? Ikuti langkah-langkah di bawah ini:
1. Penerapan Security Audit dan Vulnerability Assessment
Lakukan audit keamanan secara rutin untuk menemukan celah keamanan lebih cepat. Anda juga bisa menerapkan vulnerability assessment untuk memetakan celah yang paling kritikal. Kombinasikan keduanya untuk memperkuat sistem sebelum terjadi insiden.
Baca juga: 5 Komponen dan Contoh Laporan Hasil Vulnerability Assessment
2. Enkripsi Data, Backup Rutin, dan Proteksi Endpoint

Data yang dienkripsi dengan baik akan tetap aman, meskipun dicuri.
Sementara itu, backup akan membantu mempercepat pemulihan data-data penting bisnis dan proteksi endpoint efektif untuk mengamankan perangkat pengguna dan server dari malware.
3. Pelatihan Keamanan Siber untuk Karyawan
Adanya simulasi phishing dan edukasi SOP data-sharing dapat membantu mengurangi risiko human error. Karyawan yang lebih sadar risiko dapat menjadi lini pertahanan pertama.
4. Implementasi DLP dan Kontrol Akses Kuat

Implementasikan data loss prevention (DLP) untuk mencegah data keluar tanpa izin dan terapkan kontrol akses agar data-data penting Anda hanya dapat dimodifikasi oleh pihak yang berwenang.
5. Penggunaan Security as a Service
Terakhir, gunakan jasa security as a service untuk memonitor ancaman real-time dengan biaya lebih terjangkau. Solusi ini sangat cocok untuk pebisnis skala kecil-menengah.
Siapkan Diri Anda untuk Menghadapi Risiko Digital Modern
Semua kasus kebocoran data pribadi di Indonesia di atas menunjukkan bahwa setiap bisnis– besar maupun kecil–bertanggung jawab untuk menjaga keamanan informasi pelanggan.
Dengan memahami penyebab, dampak, dan cara mencegahnya, Anda bisa membangun pondasi keamanan yang lebih kuat dan responsif terhadap ancaman siber.
Untuk menjaga keamanan sistem Anda, mari ikuti kelas introduction to blue team dari Cyber Studio. Di sini, Anda akan mempelajari tentang jenis-jenis ancaman serta cara menghadapinya–atau tips berkarier di bidang ini.
Dengan panduan dari mentor berpengalaman dan studi kasus nyata dari industri, kami membantu Anda agar tetap unggul di dunia profesional.
Kunjungi halaman learning path kami dan tingkatkan pengetahuan Anda dalam mencegah serangan siber terkini!